Masa SMA

SMA Negeri 2 Palu

Masa SMA

Domo nitoraku isema pura ri foto.

Naroa-roa

Bara danatuvupa pura toa hi.

Kenangan

Kenangan yang pantas untuk dikenang ...

Papa Iki

Moh. Nawir Tembandjobu.

Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Desember 2021

SEJARAH DESA KALUKUBULA

 



Pada zaman dahulu ada seorang pemburu, ia mengejar buruannya yang diduga sudah pergi menuju sebuah bukit disebelah timur, yaitu bukit Silonga, karena sudah lama dan sudah jauh ia mengejar, akhirnya pemburu itu tidak mau lagi meneruskan pengejarannya. Ia menyuruh orang Silonga untuk mengejar binatang buruannya itu.

         Ada dua orang Silonga jagoan yang bersedia mengejar buruan tadi, seorang diantaranya bernama Lanoa, melalui hutan belantara namun keduanya tidak pernah merasa lelah. Tidak akan puas rasanya kalau mereka tidak menemukan binatang buruan itu. Dengan tidak disangka-sangka mereka tiba pada sebuah padang belantara, disitulah mereka sempat melihat jejak binatang buruan, lalu pengejaran dilanjutkan terus. Setelah Lanoa, dari jarak jauh melihat binatang buruan itu sedang beristirahat dibawah pohon kayu, lalu disiapkannya tombaknya, sekali tombak saja robohlah binatang buruan itu.

          Binatang buruan itu mereka bawa kesuatu tempat dibawah sebatang pohon kayu besar yang sangat tinggi, Lanoa asyik memperhatikan pohon yang tinggi itu, ia melihat dibawah pohon itu banyak sekali tumbuh kayu-kayu kecil yang hampir serupa dengan pohon itu. “Apa namanya pohon ini ?” Tanya Lanoa , “Saya tidak tahu, “ jawab temannya. Mereka merasa heran sekali melihat jenis kayu itu. Lanoa ingin memakan buahnya tetapi ia takut jangan –jangan membahayakan, namun demikian ia mencoba meminum airnya. Rasanya enak, air buah itulah yang menjadi air minumnya, karena belum puas mereka mencoba pulah memakan dagingnya yang putih warnanya, akhirnya Lanoa menamakan buah itu “ Kalukubula “.

          Karena tertarik akan tempat itu, maka kedua orang itu tidak mau lagi pulang ke kampungnya di Silonga. Di lembah yang sangat luas yang mereka namakan “ Kalukubula “ itu, mereka mulai membuka kebun. Sisa bekal dari Silonga berupa setongkol jagung, mereka tanam dikebun yang baru dibuat itu.

          Dari jauh disebelah timur, yaitu orang Lando melihat asap api mengepul di lembah itu, seorang diantaranya bernama Ravulando berkata : “Coba lihat disebelah barat dilembah itu, ada asap api, tentu ada orang disana.” Jawab temannya : “Saya kira benar apa yang kau katakan itu.” Karena mereka yakin maka kedua orang Lando itu segera berangkat menuju lembah sumber asap api itu. Setibanya disana, Lanoa terkejut sambil bertanya : “Siapa gerangan kalian ini.” Jawab orang itu :”Kami berasal dari Lando.” Lanoa menjelaskan bahwa mereka datang ditempat itu karena mengejar babi buruan orang Pakuli. Dikatakannya bahwa pemburu itu tidak mampu lagi mengejar buruannya karena sudah lelah. Lanoa menambahkan bahwa buruan orang Pakuli itu datang di Silonga lalu dikejar terus oleh Lanoa dan temannya sampai di lembah itu sehingga terbunuh dan dagingnya telah dimakan pula oleh Lanoa dan temannya.

          Kemudian orang Tara dari sebelah utara, seorang diantaranya bernama Tadabia, dan kemudian orang Pulu dari sebelah barat, seorang diantaranya bernama Torivatu,  kedatangan mereka karena alasan yang sama disebabkan karena melihat asap api mengepul di lembah itu. Jadi ada 8 orang penghuni lembah “Kalukubula” yaitu yang berasal dari Silonga, Lando, Tara dan Pulu. Mereka mulai membuka tanah kebun dan ladang. Karena orang Silonga yang pertama datang ditempat itu lagipula dianggap sebagai penghuni pertama, maka telah disepakati bersama bahwa merekalah yang menentukan luas tanah yang akan dikerjakan oleh setiap orang. Jadi Lanoa dan seorang lagi temannya itu yang berhak menentukan luas tanah yang akan dibuat kebun atau ladang.

          Lama kelamaan berdatanganlah orang-orang dari tempat yang jauh sehingga lembah itu menjadi padat penduduknya. Setiap penghuni yang baru datang diharuskan memberitahukan pada orang Silonga, orang Silonga itulah yang akan menunjukan tempat atau tanah di sebelah mana yang akan mereka kerjakan sebagai kebun. Dengan demikian setiap orang tidak bebas memilih tanah yang akan dibuat kebun.

 

Nama “ Kalukubula “ diambil dari bahasa Ledo / Kaili, Kaluku berarti Kelapa dan Bula berarti Putih. Jadi “ Kalukubula” artinya Kelapa Putih.


Sember : https://kalukubula.desa.id/index.php/artikel/2020/7/9/sejarah-desa-kalukubula

SITTI MAROYA

 

  


Sebelum kita mengenal lebih jauh sosok perempuan bernama SITTI MAROYA, marilah kita mengenal lebih dahulu Dewi Sri. Sosok kedua tokoh ini adalah sama, namun hanya berbeda nama. Untuk di Tanah Kaili, Dewi Padi itu dikenal dengan nama SITTI MAROYA.


MENGENAL DEWI SRI DAN NYI RATU KIDUL 

          Fakta bahwa wilayah laut Indonesia adalah dua pertiga dari wilayah Indonesia secara keseluruhan, menjadikan Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia, yang melahirkan keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang mengendalikan lautan.

          Kehadiran cerita-cerita rakyat bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sebuah media pendidikan. Melalui cerita-cerita tersebut, generasi sebelumnya mengajarkan nilai-nilai yang datang dari realitas. Indonesia telah dikenal sebagai sebuah negara agraris dan maritim, sehingga kaya akan cerita-cerita berkaitan dengan kehidupan agrikultur dan lautan.

          Meminjam kata Nenola (1999) dalam buku yang berjudul “Gender, Culture and Folklore”, melalui cerita rakyat secara tidak langsung pembaca dari generasi ke generasi juga diajarkan mengenai konstruksi gender, maskulinitas, feminitas, dan peran gender. Cerita rakyat adalah salah satu karya literasi yang hidup begitu lama di tengah masyarakat di mana persebarannya dibawa dari mulut ke mulut.

          Mitos, sebagai salah satu dari tiga bentuk cerita rakyat yang mengajarkan kehidupan tuhan atau setengah tuhan dalam relasinya dengan manusia. Mitos mengisi sebuah peran penting dalam mengonstruksi cara pandang dan kesadaran masyarakat.

          Sehingga menjadi sangat wajar apabila masyarakat agraris Indonesia masih melestarikan tradisi pemujaan kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi dalam upacara simbolis mempersembahkan sesaji kepada Dewi Sri sebagai dewi kesuburan agar hasil panen baik dan melimpah. Begitupun juga dengan pemujaan terhadap Nyi Ratu Kidul sebagai penguasa lautan.

          Sejak era Paleolitik, jauh sebelum keberadaan Yudaisme, Kristen, Islam, Budha, dan Hindu sudah ada kepercayaan yang meyakini sang Dewi, yaitu, Dewa yang dibayangkan dalam karakter perempuan, sosok Dewi Sri dan Nyi Ratu Kidul bisa dianggap sebagai Dewa perempuan yang melegitimasi kekuatan, cinta, dan kemandirian perempuan. Mitos tersebut menunjukkan bahwa perempuan sejak zaman itu telah mendapatkan posisi tertinggi dan tidak terpinggirkan.

 

          Dua sosok perempuan tersebut merupakan contoh cerita rakyat yang telah diyakini dari generasi ke generasi memberikan gambaran tentang keberadaan pemimpin perempuan sebagai penjaga alam, menjaga keselarasan antara kehidupan manusia dan alam, dan menjamin kelangsungan kehidupan di bumi. Adalah Dewi Sri yang hadir sebagai Dewi Padi dan Kemakmuran. Sedangkan Nyi Ratu Kidul sebagai dewi yang menguasai lautan, melindungi dan mendukung kepemimpinan raja Mataram.

         Perempuan dan alam dalam masyarakat yang patriarkial selama ini dilihat sebagai objek yang layak untuk dieksploitasi. Ialah ekofeminisme yang dalam hal ini menjadi sebuah kerangka berpikir dalam melihat dua sosok perempuan ini. Ekofeminisme lahir sebagai sebuah gerakan sosial yang memiliki ideologi yang kuat dalam melawan eksploitasi perempuan dan alam, termasuk pertumbuhan ekonomi yang tidak memperhatikan keberlangsungan ekosistem. Ekofeminisme sendiri tidak hanya memahami relasi manusia dengan manusia lainnya, tetapi juga dunia selain manusia, seperti hewan dan tumbuhan.

          Dewi Sri dan Nyi Ratu Kidul sama-sama terlahir dari masyarakat agraris dan maritim. Dikenal sebagai Dewi Padi (Rice Goddess), Dewi Sri dianggap sebagai asal dari tumbuhnya ladang padi di Jawa. Sedangkan Nyi Ratu Kidul adalah seorang ratu dari kerajaan jinn yang mengontrol dan menguasai lautan. Melalui dua sosok perempuan sebagai pemain utama tersebut, perempuan juga menunjukkan perannya pembawa sumber makanan dan penjaga alam, khususnya lautan.

          Padi merupakan salah satu makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Sehingga tidak heran kebanyakan masyarakatnya bekerja sebagai petani, mengolah sawah dan menanam padi. Dalam Cariyos Dewi Sri yang disimpan di Museum Sonobudoyo, Dewi Sri merupakan makhluk yang berasal dari surga (kahyangan), turun ke bumi untuk membawa biji-biji padi sehingga manusia di bumi (Jawa) terbebas dari kurangnya bahan-bahan makanan. Perjuangan Dewi Sri juga ditunjukkan ketika ia harus melindungi biji-biji padi tersebut sebelum sampai pada orang yang tepat, mengingat tanaman padi akan selalu mendapat ancaman dari binatang-binatang yang tidak diinginkan (hama).

 

Ekofeminisme Spiritualisme

          Keberadaan perempuan sebagai penjaga alam dalam mitos Dewi Sri dan Nyi Ratu Kidul menunjukkan bahwa perempuan diyakini sebagai sumber kehidupan. Perempuan sebagai ibu kehidupan, Ibu Pertiwi. Dewi Sri sebagai sumber kemakmuran ada di sini untuk memberikan kehidupan melalui biji-biji makanan pokok dalam bentuk beras yang ia bawa dari surga, mengajarkan cara menanam, dan merawatnya, bahkan mengajarkan cara menghindari hama yang mengancamnya.

          Mitos Dewi Sri sebagai makhluk dari surga bukan manusia ini sesuai dengan ideologi ekofeminisme spiritual, yang menarik analogi antara peran perempuan dalam produksi biologis dan peran pola dasar sebagai pemberi kehidupan dan pencipta segala sesuatu yang ada.

          Sedangkan Nyi Ratu Kidul sebagai penguasa samudera menunjukkan bahwa sosok ibu sebagai pemberi cinta dan kehidupan yang ada di lautan. Tanpa bantuan Nyi Ratu Kidul, Panembahan Senapati tidak akan bisa menjadi raja Mataram. Selama tiga hari tiga malam, tinggal di istana Nyi Ratu Kidul, Senapati mendapat pelajaran dari Nyi Ratu Kidul tentang bagaimana menjadi raja yang memimpin manusia dan selain manusia (jin, dan peri).

          Dari motif ini, dapat dipahami bahwa salah satu sumber kekuatan seorang raja (pemimpin) adalah perempuan yang menyatu dengan alam. Untuk mencapai kekuatannya, maskulinitasnya sebagai seorang raja, membutuhkan bantuan dan dukungan dari feminitas. Sebab, sumber pengetahuan dan kekuasaan pada dasarnya adalah feminitas yang dilambangkan oleh sosok Nyi Ratu Kidul, penguasa lautan. (K-MR)



Sumber : https://indonesia.go.id/ragam/budaya/sosial/mengenal-dewi-sri-dan-nyi-ratu-kidul-simbol-perempuan-penjaga-alam

۞ PETA LOKASI MA. Kabeloa Alkhairaat ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞