Masa SMA

SMA Negeri 2 Palu

Masa SMA

Domo nitoraku isema pura ri foto.

Naroa-roa

Bara danatuvupa pura toa hi.

Kenangan

Kenangan yang pantas untuk dikenang ...

Papa Iki

Moh. Nawir Tembandjobu.

Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Sulteng.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Sulteng.. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2021

Legenda Tanduk Alam

 

          Tanduk Alam adalah seorang pemuka agama Islam dari Negeri Palembang, Sumatra Selatan yang mengembara hingga ke Negeri Banggai, Sulawesi Tengah, Indonesia. Suatu ketika, Raja Negeri Banggai meminta bantuannya untuk menyelamatkan putrinya yang diculik dan ditawan oleh orang Tobelo di Pulau Sagu.

          Alkisah, pada zaman dahulu kala, ada seorang pemuka agama Islam dari Negeri Palembang, Sumatra Selatan yang bernama Hasan Tanduk Alam atau lebih dikenal dengan Tanduk Alam saja. Suatu ketika, ia mengembara ke Negeri Banggai untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Namun sebelum tiba di Negeri Banggai, ia singgah dan menetap di Tanah Sea-Sea.

          Ketika pertama kali tinggal di Tanah Sea-Sea, Tanduk Alam bekerja sebagai tukang emas dan membuat berbagai macam perhiasan. Mula-mula ia menjual hasil kerajinannya ke desa-desa sambil mengajarkan agama Islam kepada penduduk, sehingga ia tidak hanya dikenal sebagai tukang emas, tetapi juga sebagai ulama. Makin lama, Tanduk Alam pun tidak hanya dikenal di kalangan penduduk, tetapi juga di kalangan istana Negeri Banggai. Negeri tersebut dipimpin oleh Raja Adi Cokro dan dibantu oleh empat orang basalo atau pembantu raja.

          Pada suatu hari, kalangan istana dan seluruh rakyat Negeri Banggai gempar, karena putri Raja Adi Cokro tiba-tiba hilang. Sang Raja pun segera memerintahkan kepada seluruh bala tentara dan rakyat untuk mencari putrinya. Namun, setelah mencari ke seluruh penjuru Negeri Banggai, mereka tidak menemukan sang Putri. Mereka hanya mendengar kabar bahwa putri Raja diculik dan disembunyikan oleh orang-orang Tobelo di Pulau Sagu atas perintah Raja Ternate yang ingin menguasai Kerajaan Banggai.

           Mendengar kabar itu, Raja Adi Cokro segera memanggil keempat basalonya untuk mengadakan perundingan.

 

          “Wahai, para Basalo! Tentu kalian sudah mendengar berita tentang keberadaan putriku. Untuk itu, aku perintahkan kalian ke Pulau Sagu untuk membebaskannya!” perintah Raja Adi Cokro

          Keempat basalo tersebut segera berangkat ke Pulau Sagu bersama sejumlah prajurit istana.

          Sesampainya di sana, mereka segera menyerang orang-orang Tobelo. Namun mereka gagal membebaskan, karena jumlah pasukan orang-orang Tobelo yang ada di Pulau Sagu jauh lebih besar. Keempat basalo dan sejumlah prajurit istana yang masih tersisa kembali ke Negeri Banggai untuk menghadap Raja Adi Cokro.

          “Ampun beribu ampun, Baginda! Kami gagal membawa pulang Tuan Putri. Jumlah pasukan musuh di Pulau Sagu terlalu banyak. Kami tidak mampu melawan mereka,” lapor seorang basalo.

          Mendengar laporan itu, Raja Adi Cokro hanya terdiam. Ia sangat mencemaskan nasib putrinya yang ditawan di Pulau Sagu. Beberapa saat kemudian, ia bangkit dari singgasananya, lalu berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara untuk membebaskan putrinya. Suasana di ruang itu pun menjadi hening. Di tengah keheningan tersebut, salah seorang basalo dari Tano Bonunungan angkat bicara.

          “Ampun, Baginda! Hamba punya usul, bagaimana kalau permasalahan ini kita bicarakan dengan Tanduk Alam. Barangkali dia bisa membantu kita untuk membebaskan sang Putri,” sahut basalo dari Tano Bonunungan itu.

          “Hmmm…, benar juga katamu. Kalau begitu, panggil Tanduk Alam untuk segera menghadap kepadaku!” perintah sang Raja.

          “Baik, Baginda! Perintah Baginda hamba laksanakan,” ucap keempat basalo tersebut serentak.

 

          Keempat basalo tersebut segera berangkat ke Tanah Sea-Sea untuk memanggil Tanduk Alam. Beberapa lama kemudian, Tanduk Alam pun datang menghadap Raja dengan mengenakan pakaian kebesarannya.

          Ampun, Baginda! Ada apa gerangan Baginda memanggil hamba menghadap?” tanya Tanduk Alam.

          “Wahai, Tanduk Alam! Tentu kamu sudah mengetahui bahwa putri kesayanganku diculik dan disembunyikan oleh orang-orang Tobelo di Pulau Sagu,” kata Raja Adi Cokro.

          “Ampun, Baginda! Hamba hanya mendengar kabar tersebut. Tapi benarkah putri Baginda disembunyikan di Pulau Sagu?” Tanduk Alam kembali bertanya.

          “Benar, Tanduk Alam! Aku telah memerintahkan para pasukanku ke Pulau Sagu, namun mereka gagal membawa pulang putriku. Bersediakah kamu membantu prajuritku pergi ke pulau itu untuk membebaskan putriku?” pinta Raja Adi Cokro.

          “Baik, Baginda! Tapi hamba mempunyai satu permintaan,” jawab Tanduk Alam.

          “Apakah itu, Tanduk Alam?” tanya Raja Adi Cokro.

          “Hamba bersedia membantu membebaskan putri Tuanku, tapi hamba tidak perlu didampingi oleh pasukan dengan jumlah besar untuk menghindari jatuhnya banyak korban,” jawab Tanduk Alam.

          “Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Kamu hanya akan didampingi oleh keempat basaloku,” kata Raja Adi Cokro.

          Keesokan harinya, Tanduk Alam bersama keempat basalo tersebut berangkat ke Pulau Sagu dengan menggunakan perahu layar. Dalam perjalanan menuju Pulau Sagu, mereka pun mengatur siasat.

 

          “Wahai, Basalo! Sesampainya di Pulau Sagu, kita segera mencari tempat disembunyikannya sang Putri. Tapi, ingat! Kalian harus tetap tenang,” ujar Tanduk Alam.

          “Tapi, bagaimana caranya masuk ke tempat itu, Tuan? Palau Sagu telah dikuasai oleh orang-orang Tobelo. Tempat disembunyikan sang Putri pasti dijaga ketat,” sahut seorang basalo.

          “Kalau begitu, biar aku saja yang masuk ke pulau itu mencari tempat di mana tuan Putri disembunyikan. Kalian tunggu saja di perahu!” ujar Tanduk Alam.

          “Apakah tidak berbahaya jika Tuan sendiri yang masuk ke sana?” tanya seorang basalo yang lain.

          “Kalian tenang saja! Insya Allah aku bisa mengatasi semuanya,” jawab Tanduk Alam dengan penuh keyakinan.

          Pada saat tengah malam, mereka pun sampai di Pulau Sagu. Tanduk Alam pun segera naik ke pulau itu. Saat menginjakkan kaki di Pulau Sagu, Tanduk Alam segera duduk bersila sambil berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia menghilang. Betapa terkejutnya keempat basalo tersebut menyaksikan peristiwa itu dari atas perahu layar. Mereka takjub melihat kesaktian yang dimiliki oleh Tanduk Alam.

          Sementara keempat basalo tersebut menunggu di perahu layar sambil berjaga-jaga dari serangan musuh, Tanduk Alam telah menyelinap masuk ke tempat disembunyikannya putri Raja tanpa sepengetahuan orang-orang Tobelo yang sedang berjaga-jaga. Sesampainya di tempat itu, ia melihat sang Putri dikurung di dalam sebuah ruangan. Sementara orang-orang Tobelo yang bertugas menjaga ruangan itu sedang tertidur lelap. Tanduk Alam pun segera membuka pintu ruangan itu secara perlahan-lahan, lalu mendekati sang Putri yang juga sedang tertidur dan segera membangunkannya.

          Alangkah terkejutnya sang Putri saat ia terbangun dan melihat seorang pemuda berjubah di dekatnya.

 

           “Tenang, Tuan Putri! Aku diutus oleh Ayahandamu untuk membebaskanmu dari tempat ini,” kata Tanduk Alam dengan suara pelan.

          “Benarkah itu, Tuan?” tanya sang Putri.

          “Benar, Tuan Putri! Aku kemari bersama keempat basalo Ayahandamu. Mereka sedang menunggu di perahu,” jawab Tanduk Alam.

          “Ayo, Tuan Putri! Kita pergi dari tempat ini,” ajak Tanduk Alam.

           “Bagaimana caranya, Tuan? Bukankah tempat ini dijaga oleh orang-orang Tobelo?” tanya sang Putri bingung.

          “Duduklah dan pejamkan matamu, Tuan Putri! Kita akan keluar dari sini tanpa sepengetahuan orang-orang Tobelo itu,” ujar Tanduk Alam.

          Sang Putri pun menuruti perkataan Tanduk Alam. Saat sang Putri memejamkan matanya, Tanduk Alam memegang kedua tangan sang Putri sambil membaca doa. Sesaat kemudian, keduanya pun menghilang dari ruangan itu. Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba mereka berada di atas perahu. Betapa terkejutnya keempat basalo tersebut saat melihat Tanduk Alam dan sang Putri tiba-tiba muncul di samping mereka.

          “Ayo, Basalo! Lepaskan tali tambatan dan bentangkan layar dan kita segera meninggalkan tempat ini!” seru Tanduk Alam.

          Keempat basalo itu segera melaksanakan perintah Tanduk Alam. Keesokan harinya, saat matahari mulai terbit di ufuk timur, mereka tiba di Negeri Banggai dan segera membawa sang Putri ke istana.

          Kedatangan mereka pun disambut meriah oleh keluarga istana dan seluruh rakyat Negeri Banggai. Raja Adi Cokro sangat kagum atas keberhasilan Tanduk Alam membawa pulang putri kesayangannya. Raja Adi Cokro pun mengakui dan memuji kemampuan dan kesaktian Tanduk Alam.

 

          “Terima kasih, Tanduk Alam! Hadiah apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Raja Adi Cokro.

          “Sekiranya Baginda tidak keberatan, hamba minta sebidang tanah kosong dan rawa-rawa untuk hamba tanami durian dan sagu,” jawab Tanduk Alam.

          “Permintaanmu akan aku kabulkan, Tanduk Alam!” jawab Raja Adi Cokro.

          “Terima kasih, Baginda Raja! Semoga hasilnya di kemudian hari tidak hanya bermanfaat bagi hamba, tetapi juga untuk kesejahteraan rakyat negeri ini,” ucap Tanduk Alam.

          Raja Adi Cokro pun semakin kagum terhadap kemuliaan hati Tanduk Alam. Ia pun segera memerintahkan para pengawal istana untuk membuka lahan perkebunan dan membersihkan rawa-rawa. Setelah semuanya selesai, Tanduk Alam pun memulai menanam durian di lahan perkebunan dan sagu di rawa-rawa.

          Beberapa tahun kemudian, Tanduk Alam memperolah hasil yang melimpah ruah. Hidupnya pun semakin sejahtera. Melihat keberhasilannya itu, Tanduk Alam senantiasa mengajak penduduk di sekitarnya untuk membuka lahan dan menanam durian dan sagu. Penduduk sekitar pun berbondong-bondong mengikuti jejak Tanduk Alam. Alhasil, hidup mereka pun ikut sejahtera.

          Sejak itu, Tanduk Alam semakin disukai oleh masyarakat Banggai. Dengan demikian, ia dapat menyiarkan agama Islam di daerah Banggai dengan mudah. Apalagi setelah Tanduk Alam menikah dengan Putri Basalo Tano Bonunungan, ia semakin mudah melaksanakan tugasnya. Dalam waktu singkat, pemeluk agama Islam di Negeri Banggai, khususnya di Tanah Sea-Sea dan Tano Bonunungan semakin bertambah.

          Begitulah penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Tanduk Alam di Negeri Banggai sampai ia meninggal dunia. Untuk menghargai jasa-jasa Tanduk Alam terhadap Negeri Banggai, masyarakat setempat mengubur jazadnya di belakang istana Kerajaan Banggai.

 

Cerita Rakyat Tolelembunga di Lembah Napu Sulteng

 


          Cerita Rakyat Tolelembunga ini adalah salah satu legenda yang ada di Desa Sedoa Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Tolelembunga ini adalah seekor kerbau yang sangat disayangi oleh Puteri Bunga Manila, kemanapun kerbau ini pergi Puteri Bunga Manila pun mengikutinya, sehingga setiap tempat pemberhentian mereka di jadikan pemukiman yang sampai saat ini sudah terbentuk desa.

          Bahwa nenek moyang mereka pertama kali mendiami lembah Napu dan menetap di Desa Sedoa, sehingga untuk menjaga agar tetap dikenang oleh seluruh keluarganya, maka nama-nama tokoh yang berperan sangat penting dalam kisah legenda-legenda seperti Bunga Manila, Tolelembunga, dll diabadikan pada penamaan jalan-jalan diseputar pusat Desa Sedoa.

          Cerita Rakyat Tolelembunga ini adalah salah satu legenda yang ada di Desa Sedoa Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Adapun dekripsi cerita dari Tolelembunga ini adalah sebagai berikut :

           Pada jaman dahulu terdapat sebuah kerajaan di Kecamatan Sigi-Biromaru (± 12 km sebelah selatan Kota Palu) bernama Kerajaan Sigi. Kerajaan yang subur tanahnya dan makmur kehidupan rakyatnya, dipimpin oleh seorang Ratu Agung yang terkenal adil dan bijaksana bernama Ratu Ngilinayo. Sang Ratu mempunyai seorang Puteri yang cantik yang bernama Puteri Bunga Manila yang memiliki hewan kesayangan seekor kerbau betina Tolelembunga yang konon katanya bertanduk 2 meter panjangnya.

          Suatu waktu Puteri Bunga Manila merasa khawatir karena selama beberapa hari kerbaunya, Tolelembunga tidak kembali ke kandang dan tidak diketahui kemana perginya. Maka dipanggilah 40 orang lelaki kuat untuk mencari, menemukan dan membawa kembali Tolelembunga pulang ke kandangnya.

          Maka pergilah orang-orang suruhan tersebut, dan ditemukanlah Tolelembunga sedang beristirahat. Dibawalah pulang kerbau tersebut menyusuri tepian sungai Sopu, namun pada suatu tempat yang bernama Petiro Ue atau Tawaelia, Tolelembunga tidak mau lagi berjalan karena ia merasa betah dengan suasana daerah itu. Karena Tolelembunga tidak mau pulang, akhirnya Puteri Bunga Manila pun datang tetapi Tolelembunga tetap tidak mau pergi. Maka diperintahkannyalah untuk membangun perkampunga yang akan mereka tinggali sampai tolelembunga mau di ajak pergi. Namun pada tahun ketujuh, Tolelembunga kembali pergi tanpa sepengetahuan Puteri Bunga Manila.

          Puteri Bunga Manila. Dalam perjalanannya Tolelembunga menemukan sumber air panas di Wombo (kubangan) dan dia menetap disitu karena tempat itu sangat indah yang dikelilingi gunung dan hamparan rumput yag subur. Setelah diketahui keberadaannya, Puteri Bunga Manila pun menyusulinya. Setelah sampai di daerah itu, Puteri Bunga Manila sangat tertarik dengan keindahan alam daerah tersebut. Jika berada di puncak gunung terlihat lembah Pekurehua (Napu) yang subur. Diperintahkannyalah rakyat yang ikut bersamanya untuk membangun perkampungan di Wakabola dan rumah adat “Sowa” sebagai istana serta “Dusunga” sebagai tempat bermusyawarah dengan tokoh masyarakat. Ditempat ini pulalah Puteri Bunga Manila menemukan seorang lelaki tampan yang bernama Sadunia dan mereka menjadi suami isteri yang berbahagia. Demikian pula Tolelembunga menemukan kerbau jantan besar bernama Beloiliwa dan mendapat keturuna yang banyak. Sejak saat itu Wakabola tumbuh berkembag menjadi kerajaan besar di lembah Pekurehua. Dari buah kasih Ratu Bunga Manila dan Sadunia lahirlah Puteri Posuloa.

          Demikianlah ringkasan cerita rakyat Totembunga, tetapi siapa yang menciptakan cerita ini tidak diketahui secara pasti juga tahun berapa munculnya cerita ini. Cerita ini berdasarkan kesaksian dari Pak Suroy mantan Ketua Adat dan Pak Tanambali mantan Kepala Desa yang sudah dibukukan oleh tenaga teknis Bidang Seni Sastra Taman Budaya Sulawesi Tengah, sehingga cerita ini masih ada dan masih diketahui oleh masyarakat.

 

Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulut/cerita-rakyat-tolelembunga-di-lembah-napu-sulteng/

Asal Usul Pohon Sagu Dan Palem

 


          Pohon sagu dan palem merupakan jenis tanaman dataran rendah tropik yang banyak ditemukan tumbuh liar di kawasan hutan Dolo, Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, asal usul kedua jenis pohon ini berasal dari tubuh manusia atau penjelmaan manusia. Hal ini dikisahkan dalam sebuah legenda yang hingga kini masih dipercayai kebenarannya oleh masyarakat setempat.

          Alkisah, di daerah Donggala, Sulawesi Tengah, hidup sepasang suami-istri bersama seorang anak lelakinya. Mereka tinggal di sebuah rumah tua yang terletak di pinggir hutan Dolo. Hidup mereka sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mencari buah-buahan dan hasil hutan lainnya yang tersedia di sekitar mereka.

          Semakin lama sang Suami pun merasa bosan hidup dengan keadaan seperti itu. Akhirnya, timbullah niatnya ingin membuka lahan perkebunan yang akan ditanami dengan berbagai jenis tanaman palawija dan sayur-sayuran. Suatu hari, ia pun menyampaikan niat baiknya tersebut kepada istrinya.

          “Dik! Bagaimana kalau kita berkebun saja” Aku sudah bosan hidup seperti ini terus,” ungkap sang Suami.

          Alangkah senang hati sang Istri mendengar rencana suaminya. Ia merasa bahwa suaminya akan berubah untuk tidak bermalas-malasan bekerja.

          “Bang, kita mau berkebun di mana” Bukankah kita tidak mempunyai lahan untuk berkebun?“ tanya sang Istri.

     “Tenang, Dik! Besok Abang akan membuka hutan untuk dijadikan lahan perkebunan,” jawab sang Suami.

          “Baiklah kalau begitu, aku setuju,” kata sang Istri.

        Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan Dolo. Setelah beberapa lama menyusuri hutan, ia pun menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan.

 

          Sementara itu, sang Istri bersama anaknya menunggu di rumah sambil menyiangi rerumputan yang tumbuh di pekarangan rumah agar ular tidak mengganggu mereka. Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan sambil membawa buah-buahan untuk persiapan makan malam mereka. Istrinya pun menyambutnya dengan penuh harapan. Usai menyuguhkan minuman, sang Istri bertanya kepada suaminya.

          “Bang, bagaimana hasilnya” Apakah Abang sudah menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan”

          “Iya, Dik! Abang sudah menemukan sebidang tanah yang subur,” jawab sang Suami.

          Mendengar jawaban suaminya, sang Istri merasa gembira. Ia berharap dengan adanya pekerjaan baru tersebut kehidupan keluarga mereka akan menjadi lebih baik suatu hari kelak.

          “O iya, Bang! Kalau Adik boleh tahu, di mana letak lahan itu?“ sang Istri kembali bertanya.

           “Letaknya tidak jauh dari rumah kita,” jawab sang Suami.

          “Syukurlah kalau begitu, Bang! Kita tidak perlu berjalan jauh untuk mencapainya.

Lalu, kapan Abang akan memulai membuka lahan?“ tanya sang Istri.

          “Kalau tidak ada aral melintang, besok Abang akan memulainya,” jawab sang Suami dengan penuh keyakinan.

          Beberapa saat kemudian, hari sudah mulai gelap. Sang Istri pun menyiapkan makan malam seadanya. Usai makan malam, keluarga miskin tersebut beristirahat setelah hampir seharian bekerja.

          Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan sambil membawa parang dan cangkul. Sesampainya di tempat yang akan dijadikan lahan perkebunan, tiba-tiba muncul sifat malasnya. Ia bukannya membabat hutan, melainkan duduk termenung sambil memerhatikan pepohanan yang tumbuh besar dan hijau di hadapannya. Sementara itu, istri dan anaknya sedang menunggu di rumah dengan penuh harapan. Sang Istri mengharapkan agar suaminya segera membuka lahan perkebunan.

          “Anakku! Jika Ayahmu telah selesai membuka lahan perkebunan, kita bisa membantunya menanam sayur-sayuran dan umbi-umbian di kebun,” ujar sang Ibu kepada anaknya.

          “Bolehkah aku ikut membantu, Ibu”“ tanya anaknya.

          “Tentu, Anakku! Ayahmu pasti sangat senang jika kamu juga ikut membantunya,” jawab sang Ibu sambil tersenyum.

          Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan. Ia pun disambut oleh istrinya dengan suguhan air minum. Setelah suaminya selesai minum dan rasa capeknya hilang, sang Istri pun kembali menanyakan tentang hasil pekerjaannya hari itu.

          “Bagaimana hasilnya hari ini, Bang”“

          “Belum selesai, Dik!” jawab sang Suami.

          Keesokan harinya, sang Suami kembali ke hutan. Setiba di sana, ia pun kembali hanya duduk termenung. Begitulah pekerjaannya setiap hari. Begitupula jika ditanyai oleh istrinya tentang hasil pekerjaannya, ia selalu menjawab “belum selesai”.

          Oleh karena penasaran ingin melihat hasil pekerjaan suaminya, suatu siang sang Istri menyusulnya ke hutan tempatnya bekerja. Sesampainya di tempat itu, ia mendapati suaminya duduk termenung sambil bersandar di bawah sebuah pohon. Alangkah kecewanya sang Istri, karena lahan perkebunan yang diharapkannya tidak terwujud.

          “Bang! Mana lahan perkebunan itu”“ tanya sang Istri.

          Mendengar pertanyaan istrinya itu, sang Suami bukannya menjawabnya. Akan tetapi, ia segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian langsung pulang dengan perasaan marah. Rupanya, ia merasa tersinggung karena istrinya menyusul ke hutan. Mengetahui suaminya marah, sang Istri pun mengikutinya dari belakang.

 

          Sesampai di rumah, kemarahan sang Suami semakin memuncak. Ia melampiaskan kemarahannya dengan membanting barang-barang yang ada di dalam rumahnya. Sang Istri yang tidak menerima kelakuan suaminya itu langsung berlari menuju ke hutan sambil menangis. Sesampainya di tengah hutan, ia langsung menceburkan diri ke dalam sebuah telaga.

          Sementara itu, sang Suami yang baru menyadari akibat dari kelakuannya segera mengajak anaknya untuk menyusul istrinya ke tengah hutan.

          “Ayo Anakku, kita susul Ibumu ke hutan!” ajak sang Ayah sambil menarik tangan anaknya.

          “Baik, Ayah!” jawab anaknya.

          Sesampainya di tengah hutan, tidak jauh dari hadapan mereka terlihatlah sang Istri berada di tengah telaga. Tubuhnya sedikit demi sedikit menjelma menjadi pohon sagu. Melihat peristiwa itu, ayah dan anak itu pun segera berlari mendekati telaga.

          “Maafkan aku, Dik! Kembalilah!” teriak sang Suami.

          “Ibu…, Ibu…. Aku ikut!” teriak anaknya sambil menangis.

          “Kamu di sini saja, Anakku! Tidak usah ikut ibumu, sebentar lagi dia kembali,” bujuk sang Ayah.

          “Tidak Ayah! Aku mau ikut Ibu,” kata anaknya meronta-ronta.

          Sang Ayah terus berusaha membujuk anaknya agar berhenti menangis. Namun, sang Anak tetap menangis dan bersikeras ingin ikut ibunya. Saat sang Ayah lengah, si anak pun berlari dan terjun masuk ke dalam telaga. Maka seketika itu pula, ia menjelma menjadi sebatang pohon sagu seperti ibunya. Setelah melihat peristiwa itu, barulah sang Suami sadar dan menyesali semua perbuatannya.

 

          “Maafkan aku, Istriku! Maafkan aku, Anakku! Aku sangat menyesal atas semua perbuatanku kepada kalian,” ucapnya sambil menangis berderai air mata.

          Berulang kali sang Suami meminta maaf kepada istri maupun kepada anaknya. Namun, apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal kemudian tiadalah guna. Istri dan anaknya telah menjelma menjadi pohon sagu. Ia pun tidak ingin hidup sendirian tanpa istri dan anaknya. Akhirnya, ia pun ikut terjun ke dalam telaga itu. Ketika itu pula ia pun menjelma menjadi sebatang pohon palem.



Sumber : https://www.reinha.com/2018/09/cerita-rakyat-sulawesi-tengah-asal-usul-pohon-sagu-dan-palem/

 

Legenda Asal Usul Sungai Palu

 


Legenda Asal Usul Sungai Palu

          Pada zaman dahulu kala Sungai Miu dan Sungai Gumasa adalah dua anak sungai yang terpisah dua. Tapi, satu kejadian membuatnya bergabung menjadi satu menjadi Sungai Palu.

          Alkisah, Raja Palu mempunyai seorang permaisuri dan putra bernama Bolampa. Ia menurunkan kepada Bolampa  kesaktiannya. Dia juga kebal terhadap segala macam senjata.

          Di tengah kegembiraan keduanya membesarkan Bolampa. Permaisuri hamil lagi. Hal ini diam-diam menimbulkan kecemburuan di hati Bolampa. Karena, besar kemungkinan kasih sayang yang selama ini tercurahkan untuknya akan tidak ditujukan lagi untuknya, melainkan untuk adiknya.

          Pada saat bersamaan, Raja Palu menderita sakit sehingga menimbulkan meninggal dunia. Kesedihan pun mewarnai Kerajaan Palu. Termasuk permaisuri dan Bolampa. Bolampa yang hatinya masih diliputi iri dengan kehadiran adiknya, segera minggat ke Desa Sidiru, di daerah Sibolga.

           Di sana, dia melampiaskan dendam kepada orang-orang secara membabi buta. Karena, dia terlalu kuat, tak pelak, Bolampa membuat tewas orang-orang itu. Hal ini tentu membuat masyarakat Sidiru jengkel terhadapnya. Namun, kesaktian yang diwariskan dari ayahnya membuatnya tak bisa dibunuh dengan mudah.

          Bolampa heran, mengapa dia sampai bisa membunuh orang-orang. Sementara, dia sendiri tidak bisa dibunuh, bahkan kebal terhadap senjata apapun. Rasa penasaran membawanya untuk merasakan bagaimana kematian itu. Lalu, dia menyerahkan dirinya kepada orang-orang Sidiru. Orang-orang Sidiru menyambutnya dengan gembira. Namun, mereka bertanya kepada Bolampa bagaimana cara membunuh dirinya. Sedangkan, senjata yang mereka gunakan tidak mempan terhadapnya.

 

          Bolampa kemudian mengatakan, “Bunuhlah aku selepas aku menjatuhkan diri dari pohon kelapa itu.”

          Bolampa kemudian naik pohon kelapa dan menjatuhkan dirinya. Orang-orang Sidiru pun mengikuti arahan Bolampa. Mereka menusuk Bolampa dalam keadaan lemah. Segera saja Bolampa tewas di tangan mereka. Jenazah Bolampa kemudian dibawa ke baruga (rumah adat) Raja Sidiru. Kepala Bolampa dipenggal dan diletakkan di tiang baruga. Setelah sebelumnya diberi tanduk yang terbuat dari emas.

          Sewaktu anaknya meregang nyawa, ibu Bolampa yang sedang hamil tua berfirasat. Hatinya “kontak” dengan kejadian yang menimpa anaknya. Maka, dia mencari anaknya di Sidiru dan sampai di rumah Raja Sidiru. Begitu kaget dia melihat kepala Bolampa berada di tiang baruga. Dipanggillah Raja Sidiru sambil ngoceh-ngoceh tak karuan. Raja Sidiru pun membunuhnya. Kemudian, jenazahnya disimpan di peti mati kayu. Beberapa hari berikutnya, bayi yang dikandung permaisuri Palu lahir. [Baca kumpulan cerita rakyat Nusantara lainnya]

          Bayi itu diambil oleh Raja Sidiru dan diserahkan kepada orang tua yang belum dikaruniai anak untuk dirawat. Orang tua itu senang mendapat anak dari Raja Sidiru. Mereka merawat dan mendidik anak titipan itu dengan baik dan memberinya nama Tuvunjagu. Tapi, dasar keturunan Bolampa, anak itu punya kekuatan dan sifat yang sama. Setelah dewasa, Tuvunjagu sering membunuh teman-temannya. Kedua orang tua yang makin renta itu lalu menceritakan semuanya oerihal asal-usul Tuvunjagu.

          Dipanggilnya Tuvunjagu untuk diceritakan asal-usulnya. “Nak, kemarilah. Bapa mau cerita sesuatu kepada kau.”

          “Ada apa Bapa?”

          “Itu kau pernah lihat tengkorak yang terpancang di tiang baruga Raja Sidiru?”

          “Ya, pernah Bapa.”

 

          “Itu adalah abang kau.”

          Dan diceritakan secara rinci mengenai Bolampa, ibunya, dan Tuvunjagu sendiri.

          “Oh, jadi yang membunuh ibu dan kakakku adalah Raja Sidiru?” tanya Tuvunjagu dengan penuh dendam. Dendam kesumat pun bergumul di hati Tuvunjagu.

*9 tahun berikutnya…

          Raja Siddiru mengadakan pesta. Kesempatan ini tidak disia-siakan Tuvunjagu. Dia datang ke pesta itu dan mengajak putri semata wayang Raja Sidiru menari raego. Beberapa saat menari, tiba-tiba Tuvunjagu menarik parangnya dan menebas leher putri Raja Sidiru sampai pisah dari badannya. Tuvunjagu pun mengambil kepala itu dan berlari dengan cepat ke Palu. Sesampainya di Palu dia menancapkan kepala putri Raja Sidiru di tiang baruga Palu. Hal ini dilakukan sebagai pembalasan dendamnya.

          Raja Sidiru segera mengumpulkan orang-orangnya untuk membalas dendam. Namun, seorang penasihat memberikan saran yang lebih bijaksana.

          “Dulu, ketika Bolampa dan ibunya kita bunuh, tidak ada orang Palu yang datang ke Sidiru. Lebih baik kita buat jarak saja dengan Palu supaya Tuvunjagu tidak datang ke sini lagi supaya tidak terjadi pertumpahan darah yang lebih besar.”

          “Bagaimana caranya?” tanya Raja Sidiru.

          “Dengan menyatukan Sungai Mui dan Sungai Gumasa.”

          Usul ini diterima Raja Sidiru yang langsung memerintahkan rakyat untuk menyatukan kedua sungai itu. Setelah beberapa bulan bekerja, akhirnya kedua sungai itu menyatu. Tuvunjagu pun tak pernah kembali lagi ke Sidiru. Kini, kita mengenalnya dengan nama Sungai Palu. Demikian, cerita rakyat Sulawesi tentang asal-usul Sungai Palu.


Sumber : https://histori.id/legenda-asal-usul-sungai-palu/

Kisah Tiga Tadulako Asal Bulili

 


           Sebutan untuk pendekar di Sulawesi Tengah adalah tadulako, yang berarti panglima perang. Kisah dari Sulawesi Tengah ini bercerita tentang tiga orang tadulako yang hidup di Desa Bulili. Mereka adalah orang-orang yang sangat kuat tiada bandingannya. Tiga orang tadulako itu bernama Bantili, Molove, dan Makeku. Tidak ada tadulako lainnya yang mampu menandingi kesaktian tadulako dari Bulili ini. Berkat para tadulako tersebut, Desa Bulili menjadi aman. Semua orang akan gentar jika mendengar nama ketiga tadulako itu.

          Suatu hari, Desa Bulili kedatangan seorang raja dari Sigi. Ketika sedang berjalan-jalan, sang raja berjumpa dengan seorang gadis cantik asal Bulili. Raja Sigi pun kemudian meminang gadis cantik itu. Mereke menikah dan tinggal di Bulili.

          Berbulan-bulan sudah Raja Sigi tinggal di Desa Bulili. Istrinya pun kemudian mengandung. Namun, ketika sang istri ingin dimanja dan disayang oleh suaminya, Raja Sigi malah mengutarakan keinginannya untuk kembali ke Sigi.

          “Adinda, aku harus kembali ke Sigi. Sudah cukup lama aku meninggalkan Sigi. Banyak urusan yang belum terselesaikan di sana,” ucap Raja Sigi.

          “Haruskah Kakanda pergi? Tidakkah Kakanda akan merasa kehilanganku dan kehilangan anak kita?” bujuk istrinya. “Rakyat Sigi membutuhkanku, Dinda. Aku harap Dinda bisa mengerti,” kata Raja Sigi lagi.

          “Aku dan anak dalam kandunganku ini juga membutuhkanmu, Kanda. Apakah Kanda tidak ingin menyaksikan anak kita ini lahir ke dunia?” tanya sang istri.

            “Bukan begitu, Dinda. Kanda yakin Dinda adalah wanita yang sangat kuat. Jadi, tunggulah kanda di sini,” ucap Raja Sigi.

          Keesokan harinya, Raja Sigi kembali ke negerinya. Istrinya tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mampu menahan suaminya agar tidak pergi. Tinggallah ia di Bulili tanpa suami. Namun, ia tidak seorang diri, beberapa kerabatnya tinggal tak jauh dari rumahnya. Tetangga dan sahabat-sahabatnya dengan senang hati menemaninya siang dan malam.

          Bulan demi bulan ia lalui. Tanpa terasa, tibalah waktu untuk melahirkan buah hatinya. Tanpa ditemani sang suami, ia melahirkan seorang bayi yang lucu dan sehat. Semua warga Bulili ikut berbahagia menyambut kehadiran makhluk mungil itu sebagai warga baru mereka. Para pemuka desa pun mengutus dua orang tadulako yang gagah pergi ke Sigi untuk menemui Raja Sigi. Berangkatlah Makeku dan Bantili ke Sigi mengemban tugas yang diberikan pada mereka.

          Sesampainya di sana, mereka langsung menemui sang raja. Namun sayangnya, bukan keramahan yang mereka dapatkan, tapi justru ucapan tidak bersahabat yang keluar dari Raja Sigi. “Apa maksud kalian datang ke istanaku?” tanya Raja Sigi dengan sinis.

          “Maaf, Baginda. Kami diutus untuk meminta padi di lumbung Sigi. Padi itu untuk anak Baginda yang baru saja lahir,” jawab Bantili.

          Mendengar berita itu, Raja Sigi bukannya merasa senang, tetapi malah melecehkan kedua tadulako sakti itu. “Baiklah. Jika kalian menginginkan lumbung padi milikku, coba kalian angkat dan bawalah lumbung padi itu. Cukup kalian tahu, dengan puluhan orang saja baru bisa menggeser lumbung itu,” ucap Raja Sigi dengan angkuh. Ia pikir kedua tadulako pasti tidak akan sanggup membawa lumbung itu.

          Merasa diremehkan, Makeku dan Bantili segera pergi menuju ke arah lumbung padi Raja Sigi. Dengan kesaktiannya, Bantili mampu mengangkat lumbung padi yang besar itu, sedangkan Makeku mengawal Bantili dari belakang.

            Betapa terkejut dan marahnya raja Sigi menyaksikan lumbung padinya yang besar berhasil dibawa oleh kedua tadulako. Akhirnya, sang raja mengerahkan para pengawal kerajaan untuk menangkap dua tadulako itu.

          “Para pengawal, cepat tangkap orang-orang Bulili itu!” teriak Raja Sigi.

          Dengan sigap, para pengawal mengejar Makeku dan Bantili. Meskipun tenaga telah dikerahkan, mereka tetap tidak mampu mengejar kedua tadulako dari Bulili itu. Sampai akhirnya, tibalah Makeku dan Bantili di sebuah sungai yang sangat besar dan dalam. Para pengawal tampak senang, mereka mengira kedua tadulako itu pasti akan menyerah. Namun, ternyata dugaan mereka meleset, kedua tadulako sakti itu berhasil menyeberangi sungai dengan mudah. Meskipun Bantili membawa lumbung padi yang sangat besar, bukanlah hal yang sulit baginya untuk menyeberangi sungai. Para pengawal kerajaan yang menyaksikan hal itu hanya bisa terperangah. Mereka tidak mampu menyebarangi sungai yang lebar dan dalam seperti yang dilakukan tadulako sakti.

          Dengan kesaktiannya itu, Makeku dan Bantili bisa lolos dari kejaran para pengawal Raja Sigi. Mereka pun melanjutkan perjalan pulang dan akhirnya sampai kembali ke Desa Bulili dengan selamat. Sedangkan Raja Sigi menderita kerugian yang besar, karena lumbung padi kerajaannya telah dibawa ke Bulili.

Pesan moral:

Tepatilah janji yang sudah diucapkan. Selain itu, janganlah menjadi pemimpin yang angkuh dan sombong.

 

Sumber : https://www.daerahkita.com/artikel/48/kisah-tiga-tadulako-asal-bulili-cerita-rakyat-sulawesi-tengah

 

 

۞ PETA LOKASI MA. Kabeloa Alkhairaat ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞